Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Thursday, June 14, 2012

Jembatan Liwung Bogowonto


 bridge Bogowonto

Jembatan ini di jadikan Penghubung antara Kota Purworejo dengan Desaku yaitu Cangkrep Lor.....,dan menjadi jalan tembus ke Yogyakarta.
Diberi nama Jembatan Bogowanto karena di bawahnya mengalir Sungai Bagawanta. Pada zaman kerajaan Mataram Kuno sepanjang sungai ini merupakan tempat para begawan bermeditasi / bertapa.
Sungai ini disebut juga dengan nama sungai Watukura karena sungai ini terletak dalam wilayah kekuasaan Rakai Watukura Dyah Balitung (raja Medang saat kerajaan ini masih berpusat di Bhumi Mataram). Rakai Watukura Dyah Balitung dalam sejarah diriwayatkan berasal dari daerah Watukura yang saat ini terletak di Kecamatan Purwodadi.

Thursday, May 31, 2012

Legenda Nyai Bagelen





Pada jaman Mataram I, tersebutlah seorang raja yang bijaksana yang bernama Prabu Sowelocolo. Ia memiliki enam orang putra, masing-masing bernama Sri Moho Punggung, Sendang Garbo, Sarungkolo, Tunggul Ametung, Sri Getayu, dan Sri Panuhun.
Sri Panuhun memiliki seorang cucu, anak dari Joko Panuhun atau Joko Pramono yang bernama Roro Dilah atau Roro Wetan yang kemudian dikenal dengan sebutan Nyai Bagelen
Roro Dilah juga dapat disebut dengan Roro Wetan karena kedudukannya di daerah timur. Sri Getayu memiliki cucu dari putra Kayu Mutu bernama Awu-Awu Langit. Ia berkedudukan di Awu-Awu (Ngombol). Setelah dewasa, Roro Dilah menikah dengan Raden Awu-Awu Langit dan menetap di Hargopuro atau Hargorojo.
Dari pernikahan tersebut, Roro Dilah atau Roro Wetan dan Pangeran Awu-Awu Langit dianugrahi tiga orang putra, Bagus Gentha, Roro Pitrang dan Roro Taker.

Masjid Santren Bagelen


Dari Halaman Depan


Purworejo banyak di kenal menyimpan bendda Purbakala yang masuk katagori Benda cagar Budaya (BCB). Salah satunya adalah Masjid Santren atau juga di kenal dengan nama Masjid Kyai Baedlowi yang terletak di Dusun Santren Kecamatan Bagelen Purworejo.
Masjid ini merupakan Masjid tertua di daerah Bagelen karena di bangun sekitar tahun 1618 M, pada saat kejayaan Kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinan Raja Sultan Agung.

Dari sejumlah Narasumber yang berhasil di lacak, Masjid ini di bangun oleh arsitek Khasan Muhamad Shufi atas perintah istri Raja Mataram Sultan Agung sebagai hadiah atas perlawanan Kyai Baedlowi yang membantu Mataram melawan Pemerintah Belanda.

Tuesday, May 8, 2012

Masjid Tiban Purworejo



Masjid Tiban Jenar Purworejo




Sekilas Anda mungkin merasa heran mendengar nama masjid yang satu ini. Biasanya masjid di beri nama dari bahasa Arab,seperti Baitul Muttaqin,Darul Mukminin,Darul Muttaqin,dan lain-lain.
Namun ,masjid yang terletak di Dusun Kauman, RT 02/RW 02 Desa Jenar Kidul,  Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo ini memiliki nama yang kurang lazim yaitu Masjid Tiban.
Nama itu memang terdengar aneh,tapi tentu saja ada sejarahnya atau asbabul al nuzul yang melatar belakangi pemberian nama tersebut.secara Etimologi  Jawa, 
”Tiban” berarti “Kejatuhan” atau dengan konotasi lain  “ada secara tiba-tiba” .

Unik, historis, dan mistis. Itulah kesan yang ada jika melihat Masjid Tiban di Desa Jenar Kidul, Kecamatan Purwodadi, Purworejo. 
Banyaknya benda-benda purbakala yang semuanya memiliki cerita yang melatar belakanginya sudah cukup menjadi bukti dari kesan-kesan tersebut.


Monday, May 7, 2012

Masjid Agung Purworejo

Sejak RAA Cokronegoro 1 menjabat sebagai Bupati Purworejo, pertama kali yang dibangun adalah Masjid Agung Purworejo atau Masjid Jami’ yang sekarang bernama Masjid Darul Muttaqin. Alasan pembangunan Masjid Agung karena RAA Cokronegoro menyadari  jika mayoritas masyarakat Purworejo adalah kaum Muslim.


Masjid Agung Darul Muttaqin tempo dolo

Pembanguan Masjid Agung bersamaan dengan pembuatan alun-alun Purworejo yang luasnya enam hektar. Bersamaan itu pula rumah Katemenggungan Tanggung (Brengkelan) yang sebelumnya di sebelah timur Sungai Bogowonto dipindah ke sebelah utara alun-alun Purworejo. Di tengah alun-alun ditanam dua pohon beringin yang bibitnya diambil dari Kraton Yogyakarta. Di sebelah selatan alun-alun saat itu juga didirikan Kantor Residen Bagelen.


Wednesday, August 17, 2011

Patung WR Supratman



Patung WR Soepratman di prapatan Pantok, Purworejo


Hari ini, 17 Agustus 2011 kita mengibarkan bendera Merah Putih dan Menyanyikan lagu Indonesia Raya, dalam rangka memperingati HUT RI yang ke-66. Tapi 73 tahun lalu tepat di tanggal yang sama, 17 Agustus 1938, pencipta lagu kebangsaan kita tersebut wafat di Surabaya. Almarhum yang asal Somangari Kec. Kaligesing itu sama sekali tak menduga, Indonesia merdeka yang diperjuangkan lewat lagunya, menjadi kenyataan 7 tahun setelah kepergiannya.
Patung ini terletak di timur kota Purworejo,yang saat ini lebih di kenal dengan “Perempatan Pantok”.
patung ini sengaja di bangun untuk  mengenang jasa WR.SUPRATMAN yang merupakan salah seorang pahlawan nasional yang berasal dari Purworejo,beliau telah berjasa menciptakan lagu kebangsaan negara kita yaitu INDONESIA RAYA .
 
WR.SUPRATMAN lahir di desa Somongari kecamatan Kaligesing,yaitu sebuah desa kkecil yang sangat indah,sejuk dan dingin karena terletak di pegunungan,dan merupakan sentra durian dan manggis yang terkenal,oleh karena itu untuk mengenangmya pemerintah kabupaten Purworejo membangun tugu ini dengan sosok pria berkaca mata bundar,dan memegang biola di tangan kirinya dan menghadap ke selatan…
DESA Somangari terletak 12 Km sebelah tenggara kota Purworejo. Lokasinya berada di pinggang gunung, sehingga jalan raya menuju desa itu berkelak-kelok dan turun naik di antara jurang-jurang nan dalam. Sebelum tahun 1970 masuk desa tersebut harus dengan jalan kaki, karena kendaraan umum hanya sampai Desa Kemanukan, 5 Km sebelah barat Somangari. Dan siapa menduga, desa yang sepi “adoh ratu cedhak watu” tersebut 108 tahun lalu telah mengukir sejarah indah. Almarhum WR Soepratman yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya di tahun 1924, lahir di desa tersebut pada hari Kemis Wage, 19 Maret 1903.

Thursday, May 19, 2011

Sejarah



Kantor Kabupaten Dari Depan



             Hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah Selatan antara Sungai Progo dan Cingcingguling sejak jaman dahulu kala merupakan kawasan yang dikenal sebagai wilayah yang masuk Kerajaan Galuh. Oleh karena itu menurut Profesor Purbocaraka, wilayah tersebut dinamakan Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa, dinamakan : Pagalihan. 
Dari nama “Pagalihan” ini lama-lama berubah menjadi : Pagelen dan terakhir menjadi BAGELEN
Di kawasan tersebut mengalir sungai yang besar, yang waktu itu dikenal sebagai Sungai Watukuro
Nama “ Watukuro “ sampai sekarang masih tersisa dan menjadi nama sebuah desa terletak di tepi sungai dekat muara, masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Di kawasan lembah sungai Watukuro masyarakatnya hidup makmur dengan mata pencaharian pokok dalam bidang pertanian yang maju dengan kebudayaan yang tinggi.


Depan Rumah Dinas Zaman dolo



Gapura Rumah Dinas Bupati


             Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Margasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal    5 Oktober 901 Masehi, terjadilah suatu peristiwa penting, pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah Prasasti Batu Andesit yang dikenal sebagai Prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang.
Prasasti yang ditemukan di bawah Pohon Sono di dusun Boro Tengah, sekarang masuk wilayah desa Boro Wetan Kecamatan Banyuurip dan sejak tahun 1890 disimpan di Museum Nasional Jakarta Inventaris D 78.


Kembali ke Laptop