Tuesday, May 8, 2012

Masjid Tiban Purworejo



Masjid Tiban Jenar Purworejo




Sekilas Anda mungkin merasa heran mendengar nama masjid yang satu ini. Biasanya masjid di beri nama dari bahasa Arab,seperti Baitul Muttaqin,Darul Mukminin,Darul Muttaqin,dan lain-lain.
Namun ,masjid yang terletak di Dusun Kauman, RT 02/RW 02 Desa Jenar Kidul,  Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo ini memiliki nama yang kurang lazim yaitu Masjid Tiban.
Nama itu memang terdengar aneh,tapi tentu saja ada sejarahnya atau asbabul al nuzul yang melatar belakangi pemberian nama tersebut.secara Etimologi  Jawa, 
”Tiban” berarti “Kejatuhan” atau dengan konotasi lain  “ada secara tiba-tiba” .

Unik, historis, dan mistis. Itulah kesan yang ada jika melihat Masjid Tiban di Desa Jenar Kidul, Kecamatan Purwodadi, Purworejo. 
Banyaknya benda-benda purbakala yang semuanya memiliki cerita yang melatar belakanginya sudah cukup menjadi bukti dari kesan-kesan tersebut.



Imam Masjid Tiban, M Djalal Sujuti BA mengungkapkan bahwa Masjid Tiban diperkirakan bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung Demak.



Ruangan Dalam Masjid Tiban




Konon...., Masjid Tiban dibangun oleh salah satu Wali Songo,yakni Sunan Kalijaga sekitar tahun 1468 M. Namun saat membangun Masjid tersebut,Sunan Kalijaga sedang menyamar menggunakan nama Syekh Udan Baring.
Di Masjid Tiban tersimpan  benda-benda purbakala yang ada sejak masjid tersebut berdiri.

Misalkan....., Gapura kuno yang terletak di depan Masjid.
Gapura yang terbuat dari batu bata itu semula hanya di rekatkan dengan tanah seperti model bangunan jaman kuno.
Namun karena mengalami  kerusakan,maka pada tanggal  10 Februari 1991,gapura itu di pugar dan bentuk keaslian dari gapura tetap di pertahankan.

Kolah Bundar : yang terbuat dari jambangan tanah.
Kolah bundar ini pertama kali di temukan di lahan persawahan Jambangan,sekitar 1,5 KM dari Masjid.
Kolah tersebut selanjutnya di angkat ke Masjid dan diletakkan di ebelah selatan Masjid.
Kolah bundar tersebut di beri nama Al Mussyafa yang berarti Kolah pengobatan.
Dipercaya bila orang yang sakit,mandi atau meminum air dari kolah tersebut akan sembuh.Kepercayaan ini tidak hanya di kalangan warga sekitar, namun tidak sedikit warga dari luar daerah yang juga percaya.Mereka mendatangi Masjid tersebut hanya untuk mandi atau sekedar mengambil air untuk di minum supaya sakitnya sembuh.
Juga ada yang mandi atau mengambil air supaya keinginannya terkabulkan.
Misalkan supaya lulus ujian, mudah mendapatkan jodoh, segera mendapat pekerjaan,naik pangkat dll.

Selain Gapura dan Kolah, di Masjid Tiban juga terdapat Batu Hitam. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Hajar Aswad. Yang menarik, cerita yang berkembang batu hitam tersebut konon merupakan bagian dari Hajar Aswad yang ada di Ka’bah Masjidil Haram Makkah.

Imam Masjid Tiban, M Djalal Sujuti BA juga menceritakan, konon saat membangun Ka’bah di Makkah, Nabi Ibrahim AS melemparkan salah satu batu dari Hajar Aswad Ka’bah.
Tempat yang kejatuhan batu tersebut, sambung Djalal, nantinya akan berdiri sebuah masjid. Di bawah batu hitam tersebut terdapat sebuah Tulisan Arab. Saat ini batu hitam tersebut berada di sebelah selatan Masjid Tiban dan dipagar untuk melindungi posisi aslinya.

Benda Purbakala lainnya adalah Empat Buah Saka Guru yang terbuat dari tatal kayu Jati yang diikat menggunakan lempengan besi. 
Saka guru tersebut diyakini memiliki ukuran yang sama dengan saka yang dibuat Sunan Kalijaga untuk Masjid Agung Demak. Sampai saat ini saka guru itu masih menjadi penyangga utama bangunan atap masjid.



 Saka Guru


Yang menarik, di bawah saka guru tersebut terdapat empat buah umpak penyangga tiang Yoni dan Lingga dalam bentuk laki-laki dan perempuan. Umpak batu yang merupakan bangunan masa peradaban Hindu-Budha itu menunjukkan terjadinya kesinambungan budaya. Sekaligus wujud toleransi karena produk dari bangunan agama lain masih tetap diakomodir.
Selanjutnya, benda lainnya yang juga dianggap purbakala adalah Sumur Tiban yang terletak di sebelah utara masjid. Sumur ini mensuplai kebutuhan air untuk bersesuci di masjid. Sumur ini juga dipercaya muncul secara tiba-tiba.

Airnya tidak pernah kering. Tidak sedikit warga dari luar daerah yang datang ke masjid ini hanya untuk merasakan kesegaran air dari sumur tersebut. Bahkan sejumlah warga dari luar negeri juga sudah mendatangi masjid tersebut.
Benda purbakala terakhir yang ada di Masjid Tiban adalah Bedug Kuno
Konon bedug tersebut dibuat dari cabang kayu Jati Pendowo yang batang utamanya dibuat untuk Bedug Kyai Bagelen atau Bedug Pendowo yang merupakan bedug terbesar di dunia.

Saat ini, bedug pendowo berada di Masjid Darul Muttaqin, Kauman, Purworejo. Bedug ini juga dinyatakan sebagai benda purbakala dan menjadi warisan peradaban yang terus dijaga kelestariannya.

 Sumber : suara merdeka

No comments:

Kembali ke Laptop